Abdul menjelaskan bahwa rasa strawberry dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Faktor internal melibatkan varietas buah yang ditanam.

Beberapa varietas telah mengalami proses bioteknologi atau rekayasa genetik untuk menghasilkan buah dengan rasa yang lebih manis.

Untuk faktor eksternal, biasanya dipengaruhi oleh jenis tanah, iklim, dan curah hujan.

“Strawberry  merupakan buah subtropis yang memerlukan suhu antara 17 hingga 20 derajat Celsius dengan curah hujan sekitar 600 hingga 700 mm per tahun,” jelasnya.

“Artinya, strawberry tidak sepenuhnya cocok dengan iklim dan cuaca di Indonesia.

Ini adalah alasan mengapa rasanya berbeda saat ditanam di lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Selain itu rasa buah juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan, seperti curah hujan.

Jika lingkungan terlalu lembab, maka rasa buah akan tereduksi.

Namun, jika lingkungan kekurangan air, rasa buah akan terasa asam.”

Itulah sebabnya, mengapa buah ini banyak ditemui di daerah dataran tinggi seperti Bedugul, Bali.