Genta Organik Dukung Wujudkan Program Alternatif Sumber Nutrisi Tanaman

Sektor pertanian menjadi penyokong perekonomian dan ketahanan pangan nasional. Upaya mempertahankan sektor pertanian dilakukan dengan cara budidaya yang baik, salah satu kuncinya adalah tercukupi hara tanaman, tidak dipungkiri bahwa peran pupuk bila tidak terpenuhi berpotensi menurunkan produksi, kualitas dan kesehatan tanah.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengajak para petani di seluruh Indonesia untuk meningkatkan penggunaan pupuk sendiri alias pupuk organik. Saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menggencarkan Program Genta Organik dalam rangka mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Mentan Syahrul juga mendorong Pemerintah Daerah agar bergotong royong mensukseskan Genta Organik. Menurutnya, pupuk organik sangat dibutuhkan oleh para petani. Sebab, jumlah ketersediaan pupuk subsidi yang ada saat ini sangat terbatas.

“Siapa yang memperkuat Indonesia sampai tidak turbulensi seperti negara lain, itu karena bantalan ekonomi ada di pertanian. Dan pupuk adalah elemen utamanya dalam setiap menentukan produktivitas pertanian”, ujar Mentan Syahrul.

Dia berharap melalui Genta Organik, kebutuhan pangan tetap terjaga dan berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi, penghasil devisa negara, sumber pendapatan utama rumah tangga petani, dan penyedia lapangan kerja.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi pada acara Mentan Sapa Petani dan penyuluh (MSPP) volume 12, Jum’at (24/03/2023) di AOR BPPSDMP mengatakan bahwa produksi pertanian meningkat karena adanya pupuk.

Ciri pertanian maju salah satunya adalah meningkatnya produktivitas dan pupuk merupakan sarana utama untuk meningkatkan produktivitas. Mari kita gunakan pupuk organik dan jangan menggunakan pupuk secara berlebihan, tegas Kabadan Dedi.

Narasumber MSPP, Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan pupuk, Ladiyani Retno Widowati pada paparan materinya menjelaskan bahwa kita dapat membuat pupuk organik dari tumbuhan serta bahan dari olahan rumah tangga yang sudah tidak terpakai.

Adapun tujuan pengomposan yaitu menurunkan C/N rasio bahan organik atau bahan organik menjadi stabil. Ini bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, panas yang dihasilkan dapat membunuh patogen tanaman dan benih gulma, mengurangi penumpukan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan”, jelas Ladiyani.

Selanjutnya  Ladiyani mengatakan bahwa saat ini banyak beredar pupuk organik yang diperkaya pengayaan namun harus mempunyai tujuan dan manfaat yang jelas sehingga memiliki hasil guna yang optimal. Mengingat pupuk organik yang diperkaya akan lebih bernilai dibanding dengan yang tanpa pangayaan.

Ladiyani menambahkan bahwa potensi sumber hara sedikit atau banyak kadar hara yang terkandung, dapat menjadi pendukung sistem produksi pertanian, Indentifikasi Sumber Insitu Setiap lokasi pasti mempunyai sumber alternatif hara tanaman yang berbeda-beda.

Maka, diperlukan kerjasama antar kelompok tani untuk pemanfaatannya. Produksi pertanian dan produktivitas lahan terjaga bila sistem kerjasama berbudidaya telah terbentuk dan bersemangat untuk memanfaatkan sumber daya hara insitu. Hal ini diyakini produksi dapat dipertahannkan”, jelas Ladiyani.

Selain melakukan sosialisasi kegiatan Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) melalui program MSPP dan Ngobras, BPPSDMP melalui Pusluhtan terus memaksimalkan kinerja program-program utamanya salah satunya melalui Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Program SIMURP ini diarahkan pada peningkatan produktivitas tanaman dalam menghadapi perubahan iklim global, peningkatan IP dan meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim. Program SIMURP diharapkan tetap fokus pada kegiatan pada pertanian ramah lingkungan dengan memaksimalkan kegiatan penyuluhan pertanian.

Program SIMURP juga sejalan dengan Program Genta Organik dan menjadi salah satu solusi menjaga produktivitas tetap meningkat di tengah bayang-bayang krisis pangan dunia dan harga pupuk serta pestisida yang mahal. (HV/NF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *