Sapi Eksotik Jadi Primadona Baru Peternak NTB, Potensi Untung Tambahan Tembus Rp2 Juta per Ekor
- account_circle Admin
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Riadi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartanionline.com – Budidaya sapi eksotik atau sapi ras luar Indonesia mulai menjadi primadona baru di kalangan peternak Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain memiliki nilai jual yang menjanjikan, sapi jenis ini dinilai mampu menghasilkan pertambahan bobot badan lebih cepat dibandingkan sapi lokal, sehingga membuka peluang keuntungan lebih besar bagi peternak.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB mencatat minat peternak terhadap pengembangan sapi eksotik terus meningkat. Sejumlah jenis yang mulai banyak dilirik di antaranya Brahman Cross, Simental, Limosin, hingga Belgian Blue.
Kepala Disnakeswan NTB Muhammad Riadi mengatakan, tren tersebut terutama terlihat pada peternak yang bergerak di bidang penggemukan dan pengembangan ternak.
“Sudah banyak. Peternak yang memang bergerak di bidang penggemukan dan pengembangan ternak, rata-rata mulai menyukai sapi eksotik,” ujarnya di Mataram, Selasa.
Menurut Riadi, daya tarik utama sapi eksotik terletak pada kemampuan pertumbuhan bobot badan harian (PBBH) yang relatif lebih tinggi. Jika sapi Bali memiliki potensi pertumbuhan maksimal sekitar 0,9 kilogram per hari, sapi eksotik tertentu berpotensi mencapai 1,5 kilogram per hari apabila didukung pola pemeliharaan dan pemberian pakan yang tepat.
Selisih pertumbuhan tersebut menjadi peluang ekonomi yang cukup besar bagi peternak, khususnya dalam usaha penggemukan sapi.
“Potensi genetiknya maksimal sekitar 0,9 kilogram per hari. Tetapi sapi eksotik bisa mencapai 1,5 kilogram per hari. Selisih 0,5 kilogram itu yang menjadi keuntungan peternak,” jelasnya.
Dengan harga sapi hidup yang berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, tambahan pertumbuhan bobot badan tersebut dapat memberikan nilai ekonomi yang signifikan.
Disnakeswan NTB memperkirakan potensi keuntungan tambahan dalam satu siklus penggemukan bisa mencapai sekitar Rp2 juta per ekor.
“Kalau dihitung, kenaikan berat badan harian dikalikan harga per kilogram berat hidup, itu menjadi keuntungan tambahan bagi peternak,” ungkap Riadi.
Pengembangan sapi eksotik di NTB sendiri dilakukan melalui dua pola, yakni pemeliharaan sapi ras murni dan persilangan dengan sapi Bali. Persilangan tersebut diharapkan menghasilkan keturunan dengan kemampuan pertumbuhan bobot badan yang lebih optimal.
Dari sisi persebaran, budidaya sapi eksotik kini telah menjangkau Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Wilayah Lombok menjadi sentra pengembangan terbesar, disusul Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Sementara itu, peternak di Kabupaten Bima dan Dompu juga mulai melirik komoditas tersebut.
“Di NTB sudah ada. Di Dompu ada, Bima ada, KSB juga ada. Tetapi yang paling banyak di Lombok, kemudian baru di KSB. Kalau angka jumlahnya kita belum dapat pastikan,” katanya.
Besarnya potensi sapi eksotik juga terlihat dari capaian bobot badan dalam kontes ternak yang pernah digelar di Barabali, Kabupaten Lombok Tengah. Dalam kegiatan tersebut, terdapat sapi yang memiliki bobot mencapai sekitar 1,3 ton.
Capaian itu sekaligus menunjukkan potensi pengembangan sapi berbobot besar di NTB, yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peternak maupun pelaku usaha peternakan.
Meski demikian, Riadi menegaskan pengembangan sapi eksotik masih membutuhkan penguatan, terutama dalam aspek pembinaan peternak, penyediaan bibit berkualitas, serta penerapan pola pemeliharaan yang tepat.
Menurutnya, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik ternak, tetapi juga harus didukung manajemen pakan, kesehatan hewan, dan sistem pemeliharaan yang baik.
Disnakeswan NTB melihat komoditas sapi eksotik sebagai salah satu peluang strategis untuk meningkatkan produktivitas peternakan sekaligus mendorong pendapatan masyarakat.
Dengan pengembangan yang terarah dan berkelanjutan, sapi eksotik diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan sektor peternakan NTB, sekaligus memperkuat posisi daerah tersebut sebagai salah satu wilayah potensial pengembangan sapi potong di Indonesia.
- Penulis: Admin
- Editor: Editor wartanionline.com





Saat ini belum ada komentar