Festival Raya Tani 2026 Serukan Investasi bagi Petani Perempuan di Tengah Ancaman Krisis Iklim
- account_circle Admin
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Rembuk Tani di Festival Raya Tani yang diselenggarakan oleh FAO, UN Women, Pijar Foundation dan WFF Indonesia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartanionline.com – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama UN Women, PIJAR Foundation, dan World Food Forum (WFF) Indonesia menggelar Festival Raya Tani 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mendorong peningkatan investasi dan memperkuat peran petani perempuan dalam menghadapi ancaman krisis iklim global.
Festival tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Tahun Internasional Petani Perempuan 2026 dan Hari Pangan Sedunia. Melalui kegiatan ini, para penyelenggara menyoroti kontribusi perempuan dalam sektor agripangan sekaligus mendorong penghapusan ketimpangan akses terhadap lahan, pembiayaan, teknologi, dan pelatihan pertanian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Indonesia memiliki sekitar 14,8 juta petani perempuan atau setara dengan 38 persen dari total petani nasional. Sementara itu, FAO mencatat perempuan menyumbang 41 persen tenaga kerja di sektor agripangan secara global.
Meski memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan, petani perempuan masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Keterbatasan kepemilikan lahan, akses pembiayaan, fasilitas pelatihan, serta teknologi pertanian menjadi tantangan yang semakin berat di tengah dampak perubahan iklim.
Festival Raya Tani 2026 menghadirkan tiga agenda utama, yakni forum diskusi Suara Tani, dialog kebijakan Rembuk Tani, dan pameran produk Pasar Tani. Ketiga kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang untuk menyerap aspirasi petani, memperluas jejaring pasar, serta mempertemukan petani dengan pemangku kepentingan.
Dalam sesi Suara Tani, sejumlah pegiat dari wilayah pesisir dan perkotaan mempresentasikan inovasi adaptasi iklim berbasis komunitas. Inovasi tersebut mencakup penerapan teknologi tepat guna hingga pengembangan skema kemandirian finansial lokal.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, mengatakan Festival Raya Tani menjadi ruang refleksi untuk memahami perjuangan para petani di balik ketersediaan pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
“Festival Raya Tani 2026 menceritakan kisah di balik makanan yang tersaji di piring kita; kisah yang tidak hanya mencerminkan kerentanan perempuan petani terhadap perubahan iklim, tetapi juga ketangguhan mereka,” ujar Rajendra.
Ia menegaskan, penguatan peran petani perempuan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, hingga masyarakat luas.
Menurutnya, investasi terhadap perempuan petani bukan hanya persoalan kesetaraan gender, melainkan juga langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan.
“Festival ini merupakan seruan untuk bertindak bagi pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat luas agar bersama-sama menutup kesenjangan gender serta berinvestasi pada perempuan petani, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi semua pihak,” katanya.
Perwakilan UN Women untuk Indonesia sekaligus Penghubung ASEAN, Ulziisuren Jamsran, turut menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan strategis di sektor pertanian.
Ia mengatakan perempuan petani memiliki peran penting dalam menopang penghidupan masyarakat, menjaga keanekaragaman hayati, dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim.
“Perempuan petani memegang peranan vital dalam menopang penghidupan, menjaga keanekaragaman hayati, dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Ulziisuren berharap Festival Raya Tani dapat menjadi momentum bagi para pemangku kebijakan untuk memperluas akses perempuan terhadap sumber daya, teknologi, serta ruang pengambilan keputusan.
“Festival Raya Tani 2026 menjadi momentum untuk merayakan kepemimpinan dan kontribusi perempuan petani, memperkuat suara mereka, serta mendorong para pengambil kebijakan baik di sektor publik maupun swasta untuk lebih memperhatikan dan berinvestasi dalam meningkatkan akses perempuan petani terhadap sumber daya, teknologi, dan proses pengambilan keputusan,” tambahnya.
Urgensi penguatan peran petani perempuan juga tercermin dalam laporan FAO bertajuk The Unjust Climate. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa rumah tangga pedesaan yang dikepalai perempuan di negara berkembang mengalami kerugian ekonomi 8 persen lebih besar akibat gelombang panas dan 3 persen lebih besar akibat bencana banjir dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki.
FAO memperkirakan, penghapusan ketimpangan gender berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS dan menyelamatkan sekitar 45 juta orang dari kerawanan pangan.
Dari unsur pemerintah, Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Fajar Nuradi, menilai penerapan pertanian cerdas iklim atau climate-smart agriculture menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Ketahanan pangan dan perubahan iklim saling berkaitan erat. Dalam konteks tersebut, penerapan climate smart agriculture menjadi sangat relevan,” kata Fajar.
Ia menambahkan, penerapan sistem pertanian ramah iklim harus disertai peningkatan kapasitas petani serta perluasan akses terhadap fasilitas produksi.
“Oleh karenanya peningkatan kapasitas tentang climate smart agriculture serta perluasan akses pendanaan, bibit dan lahan bagi petani termasuk petani muda dan petani perempuan, merupakan suatu keniscayaan,” jelasnya.
Dukungan terhadap penguatan peran perempuan juga disampaikan Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Dewa Ayu Laksmiadi. Ia menyoroti program strategis nasional, seperti Ruang Bersama Indonesia dan Kebun Pangan Perempuan, sebagai upaya memaksimalkan pemanfaatan lahan produktif sekaligus memperkuat pemberdayaan perempuan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif PIJAR Foundation, Cazadira Fediva Tamzi, menilai perempuan petani perlu memperoleh hak dan kesempatan yang setara dalam pengelolaan sektor pangan nasional.
“Perempuan petani melakukan lebih dari sekadar menyediakan pangan di meja makan. Mereka menghadirkan kepedulian, martabat, dan harapan bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Namun, Cazadira menyayangkan masih adanya hambatan struktural yang membatasi kontribusi perempuan di sektor pertanian, terutama terkait akses terhadap lahan, modal, teknologi, pelatihan, dan keterlibatan dalam pengambilan kebijakan.
Menurutnya, perempuan harus mendapatkan dukungan dan sumber daya yang sepadan agar mampu mengembangkan potensi serta berkontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan.
Selain forum diskusi, Festival Raya Tani 2026 juga menghadirkan kompetisi inovasi pemuda Youth Innovation Challenge 2026. Ajang ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan gagasan dan solusi bagi tantangan sektor pangan dan pertanian.
Festival tersebut turut menampilkan beragam produk olahan pangan berkelanjutan dari 19 provinsi di Indonesia. Produk yang dipamerkan antara lain olahan sagu dari Riau, rumput laut dari Nusa Tenggara Timur (NTT), serta produk pertanian organik hasil binaan berbagai lembaga.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Festival Raya Tani 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap kontribusi perempuan petani, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan dan investasi konkret untuk mewujudkan sektor pertanian yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
- Penulis: Admin
- Editor: Editor wartanionline.com





Saat ini belum ada komentar