33 Negara Siapkan Stok Pangan Darurat, Mentan Amran Klaim Beras Indonesia Aman
- account_circle Admin
- calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartanionline.com – Sedikitnya 33 negara di dunia mulai mengimbau masyarakatnya menyiapkan persediaan pangan dan kebutuhan dasar untuk menghadapi kemungkinan situasi darurat. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman krisis pangan global, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan Indonesia relatif aman dengan dukungan produksi domestik dan cadangan beras yang kuat.
Amran mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi ketidakpastian global, terutama melalui kemampuan produksi pangan dalam negeri dan ketersediaan cadangan beras pemerintah.
“Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat,” kata Amran saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, kondisi ketahanan pangan nasional saat ini merupakan hasil kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan strategis untuk memperkuat produksi dan mewujudkan kemandirian pangan.
Ia menilai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri menjadi sangat penting ketika dunia menghadapi konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian perdagangan internasional.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman,” ujar Amran.
“Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” tambahnya.
Kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan krisis kini menjadi perhatian sejumlah negara. Sedikitnya 33 negara mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar memiliki persediaan kebutuhan dasar di rumah.
Persediaan tersebut meliputi makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan darurat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan.
Sejumlah negara bahkan merekomendasikan setiap rumah tangga memiliki persediaan kebutuhan pokok untuk minimal 72 jam atau tiga hari.
Inggris dan Jepang termasuk negara yang memperkuat imbauan tersebut. Pemerintah Inggris mendorong masyarakat menyimpan persediaan makanan dan air minum untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari.
Sementara itu, Jepang mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyimpan kebutuhan pokok minimal tiga hari, bahkan hingga satu minggu apabila memungkinkan.
Langkah tersebut merupakan antisipasi terhadap berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok.
Di tengah kondisi tersebut, Amran membeberkan posisi ketersediaan beras nasional yang dinilai cukup kuat.
Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.
Selain itu, terdapat potensi sekitar 10 juta ton beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen. Pemerintah juga memperhitungkan sekitar 10 juta ton stok yang berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).
Dengan perhitungan tersebut, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Sementara itu, kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.
“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” jelas Amran.
Ia menegaskan, keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Pemerintah, lanjutnya, tidak ingin Indonesia terus bergantung pada pasokan pangan dari negara lain. Terlebih, konflik antarnegara berpotensi menghambat perdagangan internasional dan membuat sejumlah negara membatasi ekspor pangan.
Amran menilai ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ketersediaan stok, melainkan juga menyangkut kedaulatan bangsa.
Menurutnya, negara yang mampu memproduksi kebutuhan pangannya sendiri memiliki ruang lebih besar untuk melindungi masyarakat dari gejolak harga maupun gangguan pasokan global.
“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Kementerian Pertanian terus memperkuat sejumlah program strategis.
Program tersebut meliputi optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, hingga peningkatan produktivitas pertanian.
Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ancaman perubahan iklim dan potensi kekeringan agar produksi pangan nasional tetap terjaga.
Amran menegaskan kondisi pangan Indonesia yang relatif aman harus disyukuri sekaligus dipertahankan melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan, serta perlindungan terhadap petani.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya.
- Penulis: Admin
- Editor: Editor wartanionline.com





Saat ini belum ada komentar