wartanionline.com – Selama ini, melon kerap dianggap sebagai tanaman “mahal” dan ribet. Butuh lahan luas, perawatan ekstra, serta insektisida dan fungisida yang tidak sedikit. Namun anggapan itu perlahan terpatahkan. Di tangan praktisi seperti Petani melon, melon justru bisa tumbuh subur, rapi, dan berbuah manis lewat sistem hidroponik bahkan tanpa insektisida sama sekali.

Menariknya, perjalanan budidaya melon hidroponik ini berawal dari hal yang sederhana: media sosial. Dari menonton unggahan, membaca diskusi di kolom komentar, hingga mencoba langsung di lapangan, pengetahuan yang didapat dari medsos terbukti mampu mengantarkan petani pemula menuju panen melon berkualitas.

Petani melon membuktikan bahwa hidroponik sistem DFT (Deep Flow Technique) bisa menjadi solusi budidaya melon yang efisien, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan siapa saja. Lantas, bagaimana teknis perawatannya hingga melon bisa tumbuh sehat tanpa insektisida? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Persemaian: Pondasi Awal Keberhasilan

Segalanya dimulai dari persemaian. Benih melon direndam dalam air bersih selama 4–6 jam untuk mengaktifkan embrio. Setelah itu, benih diperam sekitar 20 jam hingga muncul kecambah kecil tanda siap disemai.

Media semai yang digunakan tergolong sederhana, yakni busa yang dibasahi air. Busa berfungsi menjaga kelembapan sekaligus menopang benih. Benih kemudian disusun rapi di atas nampan semai dan dibiarkan selama 3–5 hari hingga tumbuh menjadi bibit muda. Selain busa, rockwool juga bisa menjadi alternatif karena daya serap airnya yang baik.

Pada fase ini, bibit belum membutuhkan nutrisi tinggi. Persemaian yang baik akan menghasilkan bibit seragam, sehat, dan kuat sehingga siap dipindahkan ke sistem hidroponik tanpa stres.

2. Penanaman di Sistem DFT: Kunci Akar Sehat

Bibit berumur 3–5 hari yang sudah cukup kuat kemudian dipindahkan ke instalasi hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Pada tahap awal, larutan nutrisi sudah diberikan, namun dengan konsentrasi rendah agar tanaman tidak “kaget”.

Mas Karyanto menggunakan nutrisi AB Mix racikan sendiri. Pengaturan tinggi air menjadi poin krusial. Pada awal tanam, air dibuat cukup tinggi agar akar mudah menjangkau nutrisi. Namun seiring pertumbuhan, ketika akar sudah menjuntai ke aliran nutrisi, tinggi air diturunkan.

Prinsipnya sederhana: yang boleh terkena air hanya akar. Media tanam harus tetap kering. Jika busa ikut terendam, risiko busuk batang akan meningkat. Keunggulan sistem DFT adalah aliran nutrisi yang stabil, sehingga tanaman tumbuh lebih seragam dan minim stres.

3. Nutrisi dan pH: Dua Faktor yang Tak Bisa Diabaikan

Dalam hidroponik, nutrisi adalah “nyawa” tanaman. Setelah memasuki fase pertumbuhan aktif, nutrisi AB Mix diberikan penuh dengan pengaturan ppm yang disesuaikan usia tanaman. Semakin tua tanaman, kebutuhannya meningkat, namun tetap harus terkontrol agar tidak berlebihan.

Selain ppm, pH air juga menjadi faktor krusial. Rentang ideal untuk melon berada di angka 6–6,8. Masalah yang kerap muncul adalah pH air yang terlalu tinggi. Untuk menurunkannya, Mas Karyanto memanfaatkan AB Mix yang secara alami dapat menekan pH. Jika belum cukup, barulah ditambahkan pH Down sesuai kebutuhan.

4. Fase Pembesaran Buah: Mengejar Manis dan Kualitas

Memasuki usia sekitar 40 hari setelah tanam (HST), melon mulai masuk fase pembesaran buah. Pada tahap ini, kebutuhan kalsium meningkat. Penyemprotan kalsium dilakukan dengan dosis sekitar dua sendok makan per tangki untuk memperkuat dinding sel buah agar kulit tidak mudah pecah.

Menjelang usia 50 HST, nutrisi ditambah KALINET sebanyak 50 ml per 1.000 liter air. Aplikasi dilakukan tiga kali dengan interval lima hari. Tujuannya jelas: meningkatkan kualitas buah, terutama tingkat kemanisan.

Untuk pencegahan penyakit, fungisida diaplikasikan dua kali, yakni pada usia 41 HST dan 48 HST. Menariknya, tidak ada insektisida sama sekali yang digunakan. Meski lokasi tanam bersebelahan dengan area persawahan, tanaman tetap aman berkat penggunaan insect net mesh 60 yang dipasang rapat sehingga hama tidak bisa masuk.

5. Tantangan di Lapangan dan Cara Mengatasinya

Salah satu tantangan paling serius dalam budidaya melon hidroponik adalah busuk batang. Penyakit ini menyebar sangat cepat. Jika satu tanaman terinfeksi, tanaman lain bisa ikut terserang.

Solusi Mas Karyanto cukup tegas dan cepat. Tanaman yang menunjukkan gejala langsung diolesi bahan aktif tembaga pada bagian terinfeksi. Cara ini efektif menekan penyebaran tanpa harus mencabut tanaman.

Tantangan lain adalah polinasi. Karena dilakukan di dalam naungan insect net, penyerbukan harus dilakukan secara manual. Caranya, bunga jantan ditempelkan ke bunga betina yang kelopaknya telah dibuka. Setiap tanaman dipolinasi 3–4 bunga, lalu dilakukan seleksi untuk memilih buah terbaik yang dipelihara hingga panen.

Murah, Mudah, dan Menguntungkan

Praktik yang dilakukan Mas Karyanto membuktikan bahwa budidaya melon tidak selalu identik dengan biaya besar dan lahan luas. Biaya perawatan per tanaman hanya sekitar Rp7.000–Rp9.000, sudah termasuk benih, nutrisi, perawatan harian, hingga listrik operasional sistem hidroponik.

Dengan hasil buah yang manis, bobot optimal, dan tampilan menarik, nilai jual melon hidroponik jauh melampaui biaya produksinya. Lebih dari sekadar mudah diterapkan, sistem ini juga ramah lingkungan, efisien, dan sangat menjanjikan secara ekonomi jika dikembangkan ke skala lebih besar.

Dari media sosial ke kebun hidroponik, kisah ini menjadi bukti bahwa belajar menanam melon kini tak lagi sesulit dulu asal mau mencoba dan konsisten merawat.