Amartha Perkuat Akses Permodalan Perempuan Perdesaan, Dorong Ketahanan Pangan
- account_circle Admin
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartanionline.com – Akses permodalan masih menjadi salah satu tantangan bagi perempuan perdesaan dalam mengembangkan usaha di sektor pangan. Padahal, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan, mulai dari kegiatan produksi hingga distribusi hasil pertanian.
Data Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan perempuan menyumbang sekitar 41 persen tenaga kerja pertanian global. Sementara di Indonesia, sekitar 14,8 juta perempuan bekerja di sektor pertanian hingga Februari 2025, mencakup subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
Melihat potensi tersebut, Amartha berupaya memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di perdesaan melalui akses permodalan, pendampingan usaha, serta perluasan akses pasar.
Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan, mengatakan hampir 30 persen mitra Amartha sepanjang 2025 bergerak di sektor pertanian dan peternakan.
“Melihat potensi yang ada, Amartha konsisten memperkuat ekosistem UMKM melalui akses permodalan, pendampingan, serta memberikan kesempatan untuk memperluas akses pasar bagi para perempuan di perdesaan,” ujar Andi.
Ia menambahkan, dukungan permodalan dan pendampingan yang diberikan Amartha telah membantu hampir 99 ribu mitra di perdesaan membuka lapangan kerja baru. Dari total lapangan kerja baru tersebut, sebanyak 97 persen diisi oleh perempuan.
Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Sumarni, petani palawija asal Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Selama lebih dari tujuh tahun, ia menekuni usaha pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebelum membudidayakan palawija, Sumarni sempat menanam melon. Namun, keterbatasan modal membuatnya kesulitan mengembangkan usaha. Setelah bergabung menjadi mitra Amartha sekitar lima tahun lalu, ia memperoleh pembiayaan untuk melanjutkan usaha pertaniannya.
“Berkat modal dari Amartha, saya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha palawija ini. Kebanyakan pembeli tinggal di sekitar rumah, jadi mereka bisa langsung membeli hasil panen. Saya bisa mendapat penghasilan hingga Rp500 ribu setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus,” kata Sumarni.
Pendapatan dari usaha tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anaknya. Meski pekerjaan mengolah lahan membutuhkan tenaga, Sumarni berharap usahanya terus berkembang agar dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga.
Kisah serupa datang dari Mariani, pembudidaya rumput laut di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Ia memulai usaha tersebut empat tahun lalu dengan mengeringkan hasil budidaya di belakang rumah. Namun, pendapatannya sempat tidak menentu karena dipengaruhi cuaca, pasang surut, dan kondisi laut.
Setelah menjadi mitra Amartha, Mariani memperoleh pembiayaan dan pendampingan usaha untuk memperluas area budidaya. Langkah tersebut membantu meningkatkan produksi sekaligus pendapatannya.
“Usaha rumput laut ini membantu saya menyekolahkan anak-anak, bekal masa depan mereka. Pembiayaan dan pendampingan dari Amartha membuat produksi usaha saya bisa terus berkembang dan pendapatan meningkat,” ujar Mariani.
Usaha yang dijalankan Mariani juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Ia kini melibatkan sejumlah tetangga, sebagian besar ibu rumah tangga, untuk membantu proses panen dan penjemuran rumput laut. Kegiatan tersebut membuka peluang bagi mereka untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Selain melalui pembiayaan produktif, Amartha memperluas dukungan bagi masyarakat perdesaan melalui Amartha Empower, portal penggalangan donasi dan zakat yang dinaungi Amartha.org.
Salah satu inisiatifnya adalah pemulihan ketahanan pangan masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Program tersebut mencakup pemulihan saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian bagi lebih dari 900 kepala keluarga atau hampir 3.000 jiwa, serta pemberian sapi untuk mendukung produksi kompos.
“Dengan pulihnya irigasi, lahan pertanian mulai kembali produktif. Kami berharap upaya ini dapat memulihkan perekonomian sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit kembali,” kata Andi.
Upaya pemulihan tersebut turut diperkuat melalui pelatihan tata kelola organisasi, manajemen keuangan, produksi, dan pemasaran bagi kelompok tani serta UMKM penyintas bencana. Program ini diharapkan membantu masyarakat kembali produktif sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.
Andi menegaskan, pemberdayaan perempuan perdesaan tidak cukup hanya melalui penyediaan modal, tetapi juga memerlukan ekosistem yang mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Melalui layanan keuangan digital, pendampingan, dan berbagai program pemberdayaan, Amartha menyatakan akan terus mendukung perempuan perdesaan agar mampu mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, serta menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar