“Saat ini ada sekitar 148 gapoktan dengan 110 kelompok tani dan 38 kelompok tani wanita, tantangan yang dihadapi di wilayah Kokap yaitu wilayah perbukitan, sehingga banyak penyuluh yang bekerja dilapangan banyak yang jatuh karena banyaknya jalan bebatuan, urai Yuliana.
Narasumber lainnya yang merupakan petani binaan BPP Kokap, Tri Estiana berhasil mengembangkan gula semut dan produknya telah di ekspor. Dinamakan gula semut dikarenakan bentuk gulanya berbentuk seperti sarang semut.
Tri Estiana menjelaskan bahwa pengembangan gula semut dilakukan pada tahun 2010 dengan awalnya memproduksi gula kelapa. Pembuatan gula semut juga dilakukan secara tradisional, yakni dikerjakan sejumlah warga di rumahnya masing-masing.
Saat ini gula semut sudah di ekspor ke luar negeri melalui eksportir. Pemasaran gula semut belum bisa di ekspor sendiri karena biayanya sangat mahal. Maka Tri Estiana meminta agar Pemerintah bisa memfasilitasinya. Kolaborasi dengan UMKM lain terutama dengan pengelola-pengelola warung kopi di sekitar Kabupaten Kulon Progro juga dibutuhkan agar gula semut dapat lebih dikenal dimasyarakat. Semoga nantinya Kabupaten Kulon Progro bisa menjadi eksportir gula semut, imbuhnya. (HV/NF)
Tinggalkan Balasan