Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Teknologi » Make in India: Ketika India Menangkap Peluang dari Pergeseran Rantai Pasok Global

Make in India: Ketika India Menangkap Peluang dari Pergeseran Rantai Pasok Global

  • account_circle redaksi
  • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

wartanionline.com – Ketika Apple mulai memperluas basis produksinya di India, dunia melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perpindahan pabrik. Peristiwa itu menjadi simbol perubahan peta manufaktur global.

Selama bertahun-tahun, China dikenal sebagai pusat produksi berbagai produk teknologi dunia. Namun, ketegangan geopolitik, perang dagang, serta kebutuhan perusahaan global untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara melahirkan strategi baru yang dikenal sebagai China Plus One. Perusahaan-perusahaan multinasional mulai mencari lokasi alternatif untuk membangun rantai pasok mereka.

India membaca peluang itu dengan cepat.

Melalui strategi “Make in India”, pemerintah India tidak sekadar menawarkan insentif investasi, tetapi membangun ekosistem yang membuat perusahaan global memiliki alasan kuat untuk memindahkan produksi mereka. Kehadiran Apple menjadi salah satu contoh paling mencolok dari bagaimana sebuah negara dapat mengubah gejolak geopolitik menjadi peluang ekonomi.

Bagi Indonesia, keberhasilan India seharusnya tidak hanya menjadi berita ekonomi dari negeri seberang. Ini adalah sebuah cermin.

Pertanyaannya sederhana: jika India bisa merebut momentum perubahan rantai pasok global, mengapa Indonesia tidak?

Dari Slogan Menjadi Mesin Investasi

“Make in India” pada dasarnya bukan sekadar slogan promosi. Strategi tersebut dibangun melalui kombinasi kebijakan, insentif, pembangunan infrastruktur, dan fasilitasi investasi.

Salah satu instrumen pentingnya adalah Invest India, badan fasilitasi investasi nasional yang berperan membantu investor memahami regulasi, menemukan peluang, hingga menghubungkan mereka dengan ekosistem bisnis yang tersedia.

India juga memperkenalkan skema Production-Linked Incentive (PLI) untuk mendorong perusahaan meningkatkan produksi domestik. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya berkata kepada investor, “Silakan membangun pabrik di India,” tetapi juga memberikan alasan ekonomi agar produksi tersebut benar-benar berkembang.

Hasilnya mulai terlihat dalam skala besar.

Sepanjang April–Desember 2025, FDI ekuitas India tercatat tumbuh 18% secara tahunan menjadi sekitar US$47,87 miliar. Bahkan, pada paruh pertama tahun fiskal 2025/2026, total arus FDI mencapai sekitar US$50,36 miliar. Secara kumulatif, gross FDI India sejak April 2000 telah melampaui US$1,14 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kompetisi mendapatkan investasi global bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki sumber daya paling banyak. Persaingan juga ditentukan oleh siapa yang paling siap ketika peluang datang.

Momentum Geopolitik Tidak Menunggu

Inilah pelajaran paling penting dari India.

Perubahan rantai pasok global tidak terjadi setiap saat. Ketika perusahaan multinasional mulai mencari alternatif produksi di luar China, negara-negara Asia berlomba menawarkan diri sebagai tujuan investasi.

Vietnam bergerak. Malaysia memperkuat industrinya. India memperbesar kapasitas manufakturnya.

Dalam situasi seperti ini, kecepatan menjadi keunggulan kompetitif.

Arsjad Rasjid, tokoh bisnis dan mentor kepemimpinan, melihat kemampuan merespons peluang sebagai salah satu faktor penting dalam memenangkan persaingan ekonomi global. Sebuah negara dapat memiliki sumber daya alam, pasar besar, dan tenaga kerja melimpah, tetapi semua itu tidak banyak berarti jika investor menemukan proses perizinan yang rumit, infrastruktur yang belum siap, atau tenaga kerja yang tidak sesuai kebutuhan industri.

Investor global pada akhirnya mencari kepastian.

Mereka ingin tahu berapa lama sebuah pabrik dapat dibangun, bagaimana akses terhadap energi dan logistik, seperti apa kualitas tenaga kerja, seberapa stabil regulasinya, serta apakah ekosistem pemasok lokal mampu mendukung operasi dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, investasi tidak hanya mengejar insentif. Investasi mengejar ekosistem.

Indonesia Sebenarnya Memiliki Modal yang Lebih dari Cukup

Jika melihat aset yang dimiliki, Indonesia bukanlah negara yang kekurangan modal untuk menjadi pusat manufaktur global.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang besar, populasi produktif, serta posisi geografis strategis di kawasan Asia Tenggara.

Nikel adalah salah satu contoh paling jelas.

Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok nikel dunia. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengubah keunggulan komoditas tersebut menjadi ekosistem industri bernilai tambah.

Nikel seharusnya tidak berhenti sebagai bahan mentah yang dikirim keluar negeri.

Komoditas tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem yang lebih luas: pengolahan mineral, bahan baku baterai, komponen kendaraan listrik, manufaktur kendaraan, hingga industri pendukung lainnya.

Di sinilah konsep Make in India dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia.

Bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan untuk diadaptasi sesuai kekuatan dan kebutuhan nasional.

Jangan Hanya Membangun Pabrik, Bangun Ekosistem

Kesalahan terbesar dalam menarik investasi adalah menganggap pembangunan pabrik sebagai tujuan akhir.

Padahal, sebuah pabrik tidak berdiri sendirian.

Ia membutuhkan pemasok bahan baku, perusahaan logistik, penyedia energi, lembaga pendidikan, pusat riset, tenaga kerja terampil, pembiayaan, hingga jaringan distribusi.

Karena itu, strategi industrialisasi Indonesia harus bergeser dari sekadar “mendatangkan investor” menjadi “membangun ekosistem industri.”

Ada setidaknya tiga pekerjaan besar yang perlu menjadi prioritas.

Pertama, Tentukan Industri yang Ingin Dimenangkan

Indonesia tidak mungkin menjadi pemain utama di semua sektor sekaligus.

Pemerintah dan pelaku industri perlu menentukan sektor-sektor yang memiliki kombinasi keunggulan sumber daya, pasar, teknologi, dan peluang ekspor.

Kendaraan listrik, baterai, pengolahan mineral, elektronik, industri digital, petrokimia, serta manufaktur berbasis sumber daya domestik dapat menjadi bagian dari agenda tersebut.

Setelah sektor prioritas ditentukan, kebijakan, insentif, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia harus diarahkan secara konsisten.

Kedua, Percepat Infrastruktur dan Kepastian Regulasi

Investor global tidak hanya melihat biaya tenaga kerja atau harga bahan baku.

Mereka menghitung keseluruhan biaya menjalankan bisnis.

Pelabuhan yang efisien, listrik yang stabil, kawasan industri yang terintegrasi, konektivitas digital, serta kepastian hukum dapat menjadi pembeda antara Indonesia dan negara pesaing.

Regulasi juga harus memberikan kepastian jangka panjang. Investor tentu menginginkan kebijakan yang mendukung investasi, tetapi kepentingan nasional tetap harus terlindungi.

Tantangannya adalah menemukan keseimbangan: ramah investasi tanpa kehilangan kendali atas arah pembangunan industri nasional.

Ketiga, Siapkan Talenta untuk Industri Masa Depan

Pabrik modern tidak hanya membutuhkan banyak pekerja. Mereka membutuhkan pekerja yang memiliki keterampilan yang tepat.

Inilah aspek yang sering kali terlupakan dalam pembicaraan mengenai investasi.

Ketika perusahaan teknologi atau manufaktur global masuk ke Indonesia, nilai terbesar yang seharusnya tinggal bukan hanya bangunan pabrik dan angka investasi. Harus ada transfer pengetahuan dan peningkatan kemampuan tenaga kerja nasional.

Indonesia membutuhkan lebih banyak teknisi, insinyur, operator berstandar internasional, peneliti, ahli otomasi, spesialis data, hingga tenaga profesional yang memahami teknologi manufaktur modern.

Tanpa talent pool yang memadai, Indonesia berisiko hanya menjadi lokasi produksi, sementara teknologi dan keahlian strategis tetap dikuasai oleh pihak lain.

Dari Investasi Menjadi Lapangan Kerja

Pada akhirnya, tujuan industrialisasi bukan sekadar mengejar angka FDI.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Satu pabrik besar dapat melahirkan rantai ekonomi yang panjang. Di sekelilingnya muncul pemasok lokal, perusahaan transportasi, jasa makanan, perumahan, perdagangan, hingga berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah.

Efek berganda inilah yang membuat manufaktur memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi.

Jika ekosistem tersebut berhasil dibangun, investasi asing tidak lagi sekadar berarti modal dari luar negeri. Ia dapat menjadi kendaraan untuk memperkuat industri domestik, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memperluas basis ekspor, dan menciptakan kelas menengah baru.

Indonesia Tidak Boleh Hanya Menjadi Pasar

Persaingan mendapatkan investasi global kini semakin ketat.

India sudah bergerak agresif. Vietnam dan Malaysia juga terus memperkuat posisinya. Negara-negara lain pun berlomba menciptakan iklim investasi yang lebih menarik.

Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk ikut memenangkan persaingan tersebut. Namun, modal tidak otomatis berubah menjadi keunggulan.

Sumber daya alam harus diolah menjadi industri. Populasi besar harus diubah menjadi tenaga kerja produktif. Posisi geografis harus diterjemahkan menjadi keunggulan logistik. Dan pasar domestik yang besar harus menjadi fondasi bagi perusahaan untuk naik kelas dan menembus pasar global.

Di sinilah pelajaran terbesar dari “Make in India” menjadi relevan.

Peluang global tidak selalu datang dua kali.

Ketika perusahaan dunia sedang merestrukturisasi rantai pasoknya, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengambil posisi yang lebih besar. Tetapi kesempatan itu hanya akan menjadi kenyataan jika pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat bergerak dalam arah yang sama.

Indonesia tidak seharusnya puas menjadi pasar bagi produk dunia.

Target yang lebih besar adalah menjadikan Indonesia sebagai tempat produk-produk dunia dirancang, dibuat, dikembangkan, dan diekspor kembali ke pasar global.

Jika India mampu mengubah momentum geopolitik menjadi mesin investasi dan industrialisasi, Indonesia pun memiliki kesempatan yang sama.

Bedanya hanya satu: siapa yang bergerak lebih cepat.

Karena dalam perlombaan merebut rantai pasok global, bukan negara yang paling banyak memiliki potensi yang selalu menang. Sering kali, pemenangnya adalah negara yang paling cepat mengubah potensi menjadi kenyataan.

  • Penulis: redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Solusi-Solusi untuk Permasalahan Pertanian di Indonesia

    Solusi-Solusi untuk Permasalahan Pertanian di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 13 Okt 2023
    • account_circle Saiful Rachman
    • 0Komentar

    Pertanian di Indoneisa merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, sektor pertanian di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang perlu segera ditangani. Dengan menerapkan solusi-solusi yang tepat, permasalahan tersebut dapat diatasi dan menciptakan pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan pertanian di […]

  • Vertical garden

    5 Tanaman Hias Terbaik untuk Vertical Garden di Lahan Terbatas

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2024
    • account_circle redaksi
    • 1Komentar

    wartanionline.com – Vertical garden menjadi solusi ideal untuk menanam tanaman di lahan terbatas, baik di dalam maupun di luar ruangan. Untuk menciptakan vertical garden yang sukses, penting memilih tanaman hias yang tepat. Berikut adalah lima pilihan tanaman hias yang cocok untuk taman vertikal. 1. Pakis Pakis memiliki daun yang menjuntai dan lebat, menjadikannya tanaman ideal […]

  • Mentan Amran Bersama Dengan Badan Eksekutif Mahasiswa dari seluruh Indonesia. (Sumber Humas Polbangtan Gowa)

    118 Badan Eksekutif Mahasiswa dan Mentan Amran Bertemu Berdialog Program Prioritas Pemerintah

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Humas Polbangtan Gowa
    • 0Komentar

    wartanionline.com, Jakarta — Sebanyak 118 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari seluruh Indonesia bertemu langsung dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk membahas berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari program pembangunan pertanian, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), hingga capaian dan transformasi besar sektor pertanian nasional, dalam dialog terbuka yang berlangsung dinamis […]

  • Bahaya Terlalu Banyak Mengkonsumsi Makanan Bertepung!

    Bahaya Terlalu Banyak Mengkonsumsi Makanan Bertepung!

    • calendar_month Kamis, 21 Sep 2023
    • account_circle Saiful Rachman
    • 4Komentar

    Makanan bertepung, seperti roti, pasta, dan kue, adalah makanan yang lazim dan terasa lezat. Namun, mengkonsumsi terlalu banyak makan makanan tersebut dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan kita. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan bahaya terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang banyak tepung. 1. Berisiko Obesitas Makanan bertepung cenderung tinggi karbohidrat dan kalori. Jika dikonsumsi secara […]

  • Tanaman Hias Panjang Umur yang Dapat Hidup Selama Puluhan Tahun

    Tanaman Hias Panjang Umur yang Dapat Hidup Selama Puluhan Tahun

    • calendar_month Minggu, 8 Sep 2024
    • account_circle redaksi
    • 2Komentar

    wartanionline.com – Beberapa tanaman hias memiliki potensi untuk hidup selama bertahun-tahun, asalkan diberikan kondisi pertumbuhan yang tepat. Menurut ahli hortikultura Justin Hancock, tidak ada kategori khusus untuk tanaman hias yang panjang umur. Semua tanaman dalam ruangan memiliki potensi untuk hidup selama puluhan tahun jika tumbuh dalam kondisi yang baik dan tidak stres. Tanaman-tanaman ini umumnya […]

  • Berikut enam tanaman hias bunga yang tahan terhadap sinar matahari intens dan kekeringan, bikin suasana jadi sejuk.

    6 Rekomendasi Tanaman Hias Bunga yang Tahan Cuaca Panas, Jadi Pilihan Ideal untuk Taman Cantik dan Sejuk

    • calendar_month Sabtu, 21 Okt 2023
    • account_circle Saiful Rachman
    • 1Komentar

    Cuaca panas seringkali menjadi tantangan bagi tanaman hias bunga, terutama ketika terus-menerus terpapar sinar matahari yang menyengat dan kondisi kekeringan yang mengintai. Namun, jangan khawatir, karena ada beberapa tanaman hias bunga yang mampu mengekspresikan keindahan mereka sepanjang musim kemarau, bahkan di bawah teriknya matahari. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah enam tanaman hias bunga yang dapat […]

expand_less