Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pariwisata » peristiwa » Sabana Menyempit, Badak Terdesak: Dampak Krisis Iklim dan Invasi Spesies Asing

Sabana Menyempit, Badak Terdesak: Dampak Krisis Iklim dan Invasi Spesies Asing

  • account_circle redaksi
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

wartanionline.com – Bentang sabana Taman Nasional Baluran yang selama ini dikenal sebagai “Afrika van Java” kini tak lagi sepenuhnya terbuka. Tanaman akasia berduri (Acacia nilotica) perlahan mengambil alih ruang hidup, menekan pertumbuhan rumput pakan banteng dan satwa herbivora lain. Invasi ini mengubah sabana yang semula lapang menjadi semak-semak rapat, menggeser keseimbangan ekosistem yang telah terbentuk selama ratusan tahun.

Fenomena serupa terjadi di ujung barat Pulau Jawa. Di Taman Nasional Ujung Kulon, Arenga obtusifolia tanaman langkap sejenis palem tumbuh membentuk tegakan rapat. Keberadaannya menghambat regenerasi tumbuhan pakan badak jawa, satwa ikonik yang populasinya kian menipis.
“Di Ujung Kulon, Arenga obtusifolia menekan regenerasi tumbuhan pakan badak jawa dan menyederhanakan keanekaragaman vegetasi,” ujar Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (PPLH LRI LPI) IPB University, Yudi Setiawan, Minggu (4/12/2025).

Masuknya spesies invasif ini tak bisa dilepaskan dari krisis iklim global. Perubahan pola hujan, peningkatan suhu, serta makin seringnya gangguan seperti kebakaran dan kekeringan telah melemahkan daya lenting ekosistem alami. Dalam kondisi rapuh tersebut, muncul apa yang disebut para peneliti sebagai “celah ekologis” ruang kosong yang memberi peluang bagi spesies asing untuk masuk, berkembang cepat, lalu mendominasi.

Spesies invasif umumnya memiliki toleransi lingkungan yang lebih tinggi dan kemampuan adaptasi yang kuat. Mereka mampu memanfaatkan perubahan iklim sebagai “tangga masuk” untuk menguasai habitat baru, sering kali dengan konsekuensi serius bagi keanekaragaman hayati lokal.

Ancaman Nyata bagi Satwa Langka

Menurut Yudi, Arenga obtusifolia kini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan badak jawa di Ujung Kulon karena merusak habitat mencari makan yang sangat vital. Di Baluran, akasia berduri juga mengubah struktur sabana asli, menggeser fungsi ekosistem yang menopang kehidupan satwa liar.

“Spesies invasif saat ini menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan produktivitas di ekosistem khatulistiwa,” kata Yudi, seperti dikutip dari laman resmi IPB University.

Untuk memahami dan mengatasi persoalan ini, Yudi memperoleh hibah penelitian dari Asia-Pacific Network for Global Change Research. Penelitian tersebut mengkaji dinamika dan penyebaran spesies asing invasif (invasive alien species/IAS) di ekosistem khatulistiwa serta kaitannya dengan krisis iklim. Studi ini bersifat kolaboratif, melibatkan peneliti dari IPB University, Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta sejumlah perguruan tinggi luar negeri seperti Universiti Putra Malaysia dan Universiti Teknologi Malaysia.

“Studi ini menyelidiki gangguan ekologis yang disebabkan oleh spesies invasif di dua kawasan keanekaragaman hayati penting Indonesia, yakni Taman Nasional Baluran dan Ujung Kulon,” tutur Yudi.

Memprediksi Masa Depan Invasi

Penelitian ini tak hanya berhenti pada pemetaan masalah. Tim peneliti berupaya memprediksi dan mengelola dinamika spesies invasif di tengah percepatan perubahan iklim. Pendekatan yang digunakan terbilang mutakhir menggabungkan genomika untuk mendeteksi sifat adaptif spesies, penginderaan jauh berbasis satelit untuk memetakan perubahan habitat, serta pemodelan mekanistik untuk memprediksi risiko invasi secara spasial dan temporal.

Selain merancang solusi yang spesifik lokasi, penelitian ini juga bertujuan memperkuat kerja sama regional melalui pengembangan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS) bersama pengelola kawasan lindung dan para pemangku kepentingan.

Ke depan, riset ini diharapkan menghasilkan platform pemodelan risiko spesies invasif yang dapat direplikasi dan dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini. Platform tersebut juga dirancang untuk memberikan panduan strategis yang sejalan dengan jalur pengendalian IAS ASEAN dan target keanekaragaman hayati global pasca-2020.

Dengan menjembatani sains, teknologi, dan kebijakan, penelitian ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas regional dalam pengendalian spesies invasif. Lebih jauh, pendekatan lintas batas ini diharapkan berkontribusi pada ketahanan ekologis kawasan tropis serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-13 tentang aksi iklim dan poin ke-15 tentang kehidupan di darat.

  • Penulis: redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jasa Anti Rayap

    Jasa Anti Rayap Profesional, Solusi Efektif Lindungi Rumah dari Kerusakan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle redaksi
    • 0Komentar

    Wartanionline.com | Serangan rayap sering kali tidak disadari hingga kerusakan sudah cukup parah. Material kayu seperti kusen, pintu, hingga struktur bangunan menjadi sasaran utama. Untuk mencegah kerugian lebih besar, penggunaan jasa anti rayap suntikrayap menjadi solusi yang tepat dan efektif. Menggunakan jasa anti rayap profesional memberikan hasil yang lebih maksimal dibandingkan penanganan mandiri. Teknisi berpengalaman […]

  •  Tantangan dan Tips Mengatasi Masalah Peternak Kambing saat Musim Hujan

     Tantangan dan Tips Mengatasi Masalah Peternak Kambing saat Musim Hujan

    • calendar_month Senin, 27 Nov 2023
    • account_circle Saiful Rachman
    • 1Komentar

    Musim hujan seringkali menjadi tantangan bagi peternak kambing. Hujan yang terus-menerus dan kelembaban tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah bagi ternak kambing. Beberapa masalah yang sering dihadapi peternak kambing saat musim hujan antara lain adalah penyakit kulit, infeksi pernapasan, dan penurunan produktivitas. Berikut beberapa tips mengatasi masalah ternak kambing saat musim hujan: 1. Kandang yang Baik […]

  • FAO Fasilitasi Petani Mangga RI Adopsi Teknologi Produksi Filipina

    FAO Fasilitasi Petani Mangga RI Adopsi Teknologi Produksi Filipina

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle redaksi
    • 0Komentar

    FAO memfasilitasi delegasi petani dan pemerintah Indonesia mempelajari teknologi produksi serta pengolahan pascapanen mangga di Filipina untuk mendongkrak ekspor.

  • Penggunaan pupuk organik: Berikut 5 Keunggulannya

    5 Keunggulan Menggunakan Pupuk Organik pada Tanaman

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2024
    • account_circle redaksi
    • 2Komentar

    wartanionline.com – Penggunaan pupuk organik semakin populer di kalangan petani dan pecinta tanaman. Pupuk organik, yang terbuat dari bahan alami seperti kompos, pupuk kandang, dan sisa tanaman, menawarkan berbagai manfaat bagi tanaman dan lingkungan. Berikut adalah lima keunggulan utama menggunakan pupuk organik pada tanaman: 1. Meningkatkan Kesehatan Tanah Pupuk organik membantu memperbaiki struktur tanah dan […]

  • OJK Lantik Pejabat Baru Bursa Komoditas Strategis Tekan Transfer Pricing

    OJK Lantik Pejabat Baru Bursa Komoditas Strategis Tekan Transfer Pricing

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle redaksi
    • 0Komentar

    OJK melantik Henry Rialdi sebagai Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis untuk memperkuat tata kelola perdagangan nasional.

  • 5 Tanaman Pembasmi Alami: Bikin Ulat Bulu Kapok dan Enggan Mendekat!

    5 Tanaman Pembasmi Alami: Bikin Ulat Bulu Kapok dan Enggan Mendekat!

    • calendar_month Kamis, 28 Mar 2024
    • account_circle Saiful Rachman
    • 1Komentar

    Ulat bulu menjadi momok bagi tanaman kesayangan Anda, tentu harus basmi. Bulunya yang gatal dan kemampuannya melahap daun dalam waktu singkat membuat Anda gemas. Namun, daripada menggunakan pestisida kimia, ada solusi alami yang lebih ramah lingkungan, yaitu menanam tanaman yang dibenci ulat bulu! Tanaman ini memiliki aroma atau rasa yang tidak disukai ulat bulu, sehingga […]

expand_less