Mentan Amran Soroti Anomali Harga Telur di Peternak dan Konsumen
- account_circle Admin
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartanionline.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti tingginya kesenjangan harga telur ayam ras di tingkat peternak dan konsumen. Saat peternak menjual telur dengan harga Rp 20.000-Rp 21.000 per kilogram (kg), harga di tingkat konsumen disebut mencapai Rp 40.000-Rp 45.000 per kg.
Amran menilai perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya anomali dalam rantai distribusi pangan. Pasalnya, pasokan telur ayam ras di dalam negeri diklaim berada dalam kondisi surplus, bahkan telah mampu memenuhi kebutuhan ekspor.
“Telur ayam juga surplus, bahkan ekspor. Nah, hanya ada masalah, di tingkat peternak itu harga telur ayam Rp 20.000-Rp 21.000, harusnya Rp 26.000 dan Rp 30.000. Tetapi juga ironisnya di konsumen Rp 40.000-Rp 45.000,” ujar Amran di kantornya, Senin (26/10/2026).
Menurut Amran, selisih harga yang lebar tersebut perlu menjadi perhatian karena harga yang diterima peternak jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga yang harus dibayar masyarakat.
Pemerintah, kata dia, telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menelusuri persoalan distribusi sekaligus mendorong penurunan harga telur di tingkat konsumen.
“Alhamdulillah sudah mulai menindak, baru diumumkan harga sudah turun,” katanya.
Selain menyoroti rantai distribusi, Kementerian Pertanian juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung keberlangsungan usaha peternak, khususnya peternak kecil. Salah satunya melalui penyediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih terjangkau.
Amran menyebut pemerintah menyiapkan skema pembelian bahan baku pakan berupa soybean atau kedelai dengan harga Rp 8.630 per kg. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga yang disebut berlaku di pasar swasta, yakni sekitar Rp 10.000-Rp 12.000 per kg.
“Kemudian, solusi yang kami lakukan yang jangka pendek kepada peternak pertama program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog,” kata Amran.
Ia menambahkan, skema pengadaan bahan baku tersebut diharapkan dapat membantu peternak memperoleh kebutuhan produksi dengan biaya lebih rendah.
“Kemudian pemerintah yang membeli pakan soybean itu langsung ke peternak harganya Rp 8.630 per kilo, sedangkan swasta Rp 10.000-Rp 11.000-Rp 12.000,” ujarnya.
Di samping penyediaan bahan baku pakan, pemerintah juga mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Perum Bulog untuk membantu peternak kecil memenuhi kebutuhan jagung sebagai bahan pakan.
Melalui program tersebut, jagung disalurkan kepada peternak kecil dengan dukungan subsidi pemerintah. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya produksi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternakan.
“Ada juga SPHP dari Bulog, sudah dibagikan, yaitu jagung yang diberikan kepada peternak kecil dengan disubsidi oleh pemerintah untuk membantu peternak kecil memenuhi kebutuhan pakan,” tegasnya.
Pemerintah berharap kombinasi perbaikan distribusi, penyediaan bahan baku pakan dengan harga terjangkau, serta penyaluran jagung bersubsidi dapat membantu menjaga keseimbangan harga telur ayam ras.
Dengan demikian, peternak diharapkan memperoleh harga jual yang lebih layak, sementara masyarakat dapat membeli telur dengan harga yang lebih terjangkau.
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar