wartanionline.com – Delapan puluh tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, tantangan yang dihadapi generasi muda kini bukan lagi perjuangan politik atau mempertahankan kedaulatan wilayah. Tantangan itu telah bergeser menjadi persoalan yang jauh lebih mendasar: kedaulatan ekonomi dan pangan. Di tengah dunia yang terus bergejolak dari perang, krisis iklim, hingga disrupsi global rantai pasok Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan penting: mampukah kita memberi makan bangsa sendiri, bahkan dunia?
Pertanyaan tersebut kembali menggema seiring visi besar Presiden Prabowo Subianto, yang dalam Pidato Perdana di Sidang MPR-RI menegaskan cita-cita ambisius: menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Cita-cita ini bukan sekadar slogan politik, melainkan strategi kebangsaan yang sangat relevan dengan dinamika geopolitik global.
Potensi Besar, Ancaman Serius
Indonesia dianugerahi kekayaan alam, tanah subur, biodiversitas yang luar biasa, dan iklim tropis yang mendukung budidaya pangan sepanjang tahun. Secara alamiah, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat produksi pangan global. Namun potensi ini terancam oleh satu persoalan fundamental: krisis regenerasi petani.
Sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan nasional kini kekurangan tenaga muda. Banyak negara maju telah mengalami fenomena serupa dan kini kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Indonesia berada di ambang persoalan yang sama.
Data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:
-
71% petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, hanya 29% berusia di bawah 45 tahun (BPS).
-
Minat generasi muda terhadap sektor pertanian tergolong sangat rendah.
-
Survei Jakpat mencatat hanya 6 dari 100 generasi Z yang tertarik bekerja di sektor pertanian.
Alasan penolakan itu cukup beragam: minimnya pengembangan karier (36,3%), risiko kerja tinggi (33,3%), pendapatan rendah (20%), tidak dihargai (14,8%), dan dianggap tidak menjanjikan (12,6%).
Selain itu, hambatan struktural seperti keterbatasan lahan, sulitnya mengakses pembiayaan, serta rendahnya penggunaan teknologi modern membuat sektor pertanian semakin kurang menarik. Perubahan iklim ikut memperparah situasi cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, hingga serangan hama membuat petani menjadi kelompok paling rentan.
Semangat Sumpah Pemuda dalam Konteks Baru
Dalam konteks ini, semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 mendapatkan relevansi baru. Jika pada masa lalu para pemuda bersumpah untuk menyatukan bangsa, maka hari ini generasi muda harus bersumpah untuk mewujudkan kedaulatan pangan.
Generasi muda Indonesia dituntut menjadi pelopor gerakan pertanian modern, lebih berorientasi inovasi, teknologi, dan kewirausahaan. Sektor ini bukan lagi harus dipandang sebagai pekerjaan berat dan tradisional, tetapi sebagai ladang peluang masa depan.
Kebutuhan global pun semakin mendesak. Menurut FAO, untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia pada 2050, produksi pangan harus meningkat 60% lebih tinggi dibandingkan saat ini. Kondisi ini membuka peluang besar bagi negara tropis dengan lahan luas seperti Indonesia asalkan mampu melahirkan generasi petani baru yang kreatif dan terdidik.
Petani Milenial: Harapan Baru Kedaulatan Pangan
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul gelombang optimisme baru melalui kehadiran petani milenial. Mereka adalah pemuda yang tidak hanya menggarap tanah, tetapi juga mengelola pertanian sebagai bisnis modern berbasis teknologi.
Petani milenial:
-
memanfaatkan drone, sensor IoT, dan big data untuk memantau lahan,
-
menggunakan platform digital untuk pemasaran dan distribusi,
-
menciptakan startup agritech untuk solusi hilirisasi pangan,
-
membangun jaringan dan kolaborasi yang memperluas pasar,
-
menjadikan pertanian sebagai ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Mereka bukan hanya menanam padi, jagung, atau sayur, tetapi juga menanam ide, data, jejaring, dan masa depan bangsa.
Menuju Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia
Untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, regenerasi petani menjadi kunci. Pemerintah perlu mempercepat transformasi digital pertanian, memperluas akses pembiayaan, memberikan kepastian lahan, serta menghadirkan insentif bagi petani muda. Sementara itu, generasi muda harus mulai memandang pertanian sebagai sektor strategis yang mampu menjamin ketahanan bangsa.
Jika pemuda 1928 bersumpah demi persatuan, maka pemuda hari ini perlu bersumpah untuk kemandirian pangan. Sebab bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri adalah bangsa yang benar-benar merdeka.
Dan di tangan generasi muda yang penuh kreativitas, energi, dan inovasi, masa depan kedaulatan pangan Indonesia dapat menjadi kenyataan bahkan melampaui harapan, menuju cita-cita menjadi lumbung pangan dunia.

